Thursday, January 19, 2017

Curhat Pilu Istri: 'Ciuman Suami Bisa Membuatku Mati'


Seorang warga Minnesota bernama Johanna Watkins mengidap penyakit aneh dan langka yang disebut Mest Cell Activation Syndrom (MCAS).

Penyakit tersebut membuat tubuh wanita 29 tahun itu alergi terhadap banyak hal. Mulai dari cahaya matahari, sentuhan, bau masakan, hingga aroma suaminya sendiri, Scott.

Johanna bertemu dengan Scott lima tahun lalu saat mengajar di Hope Academy, Minneapolis, Minnesota. Mereka menikah pada 2013. Namun sayangnya, dua tahun setelah menikah Johanna didiagnosa mengidap berbagai macam alergi terhadap benda-benda yang ada di kehidupan sehari-harinya.

" Sekitar tiga tahun yang lalu, sebelum dia didiagnosis, jika saya terlalu dekat dengannya, terutama wajah, dia tiba-tiba batuk-batuk," kenang Scott.

Namun, baru tahun kemarin pasangan ini menyadari bahwa mereka tidak bisa berbagi kebahagiaan secara fisik bersama-sama.

" Kami mulai menyadari ketika satu hari dia datang ke kamar dan saya langsung merasakan sakit. Gejala alergi normal saya semakin memburuk," kata Joanna.

Seminggu kemudian, ketika Scott mencoba untuk mendekati istrinya, hal yang sama terjadi lagi. Sejak itu Scott dan Joanna sadar bahwa hidup mereka harus berubah secara dramatis.

Tuesday, January 17, 2017

Kiat Yang Harus Di Coba Sebelum Membeli Rumah di Komplek Perumahan


Alhamdulillah, akhirnya selesai juga proses pembelian rumah yang menyita energi, biaya dan waktu sekitar 2-3 bulan terakhir ini 🙂 Saya mencatat setiap detail proses yang saya jalani dalam proses pembelian rumah ini. Saya berharap pengalaman ini bisa menjadi suatu tacit knowledge yang bermanfaat untuk rekan-rekan semua dimanapun berada. Karena terlalu banyak hal yang saya catat, saya bagi menjadi dua artikel, yang pertama saya beri judul 10 Kiat Membeli Rumah di Komplek Perumahan, dan yang kedua berjudul 10 Kiat Mengurus Administrasi KPR. Sebenarnya sebelum dua artikel terakhir ini, saya juga membahas proses review rumah, khususnya yang saya bidik di wilayah Cibubur. Mudah-mudahan tiga seri artikel ini bermanfaat untuk rekan-rekan semua yang kebetulan sedang bingung dan ragu untuk membeli rumah, khususnya di komplek perumahan.

Lakukan survey secara mendetail tentang perumahan yang akan kita beli. Survey bisa dilakukan baik melalui Internet atau survey lapangan. Buat komparasi, scoring, dan analisa berdasarkan parameter dan spesifikasi rumah yang kita inginkan.

Pemilihan rumah sendiri bisa menggunakan beberapa parameter, misalnya seperti di bawah. Atau bisa juga dengan parameter yang lebih lengkap seperti yang saya tulis di artikel berjudul Rumah Ideal di Jabodetabek: Review Wilayah Cibubur.

Posisi di dalam atau di luar cluster. Untuk keluarga muda yang masih memiliki anak kecil, pilihan rumah di dalam cluster lebih memudahkan dalam manajemen anak. Di dalam cluster juga relatif lebih aman karena biasanya ada satpam cluster yang menjaga arus keluar masuk mobil dan barang.
Kedekatan dengan taman.

Arah hadap rumah (timur, selatan, barat, utara). Ingat matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat. Sesuaikan apakah kita ingin mendapatkan matahari pagi atau sore, demikian juga dengan matahari dari depan, belakang, samping kanan atau kiri rumah kita.
Posisi di hook yang ada kelebihan tanah atau tidak. Ketersediaan sisa tanah dan letak rumah di hook (pinggir) memungkinkan kita dengan mudah merenovasi rumah. Konsekuensinya adalah harganya yang relatif lebih mahal.

Datangi pemasaran (marketing) perumahan dan minta informasinya rumah dari yang kita beli dengan lebih detail. Minta pihak pemasaran perumahan untuk mengantar kita langsung ke lokasi atau cluster yang kita pilih. Interview tetangga sekitar atau satpam apabila masih ada informasi yang kita butuhkan.

Status rumah ada dua: siap huni dan indent. Untuk rumah yang statusnya “siap huni”, biasanya kita bisa langsung melihat rumah yang ingin kita beli. Sebagian besar perumahan menggunakan model “indent”, jadi kita hanya bisa memilih lokasi dari gambar site map, dan kita harus menunggu 8-24 bulan dari akad kredit untuk proses pembangunan rumah.

Masalah harga rumah, kita harus teliti dengan yang satu ini. Cek lagi, harga rumah sudah mencakup apa saja. Biasanya harga rumah sudah termasuk PPN 10%, biaya Akta Jual Beli (AJB) dan biaya Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB). Tapi harga belum termasuk Bea Perolehan Hak Atas Tanah Bangunan (BPHTB) dan biaya KPR (provisi, notaris, administrasi, asuransi jiwa dan kebakaran, APHT, etc). Harga rumah (tanah dan bangunan) ditambah dengan BPHTB biasanya disebut dengan “harga pengikatan”.

Untuk pembayaran rumah dengan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari bank, perhatikan tahapan pembayaran rumah dari uang tanda jadi sampai akad kredit. Jangan sampai kita salah paham atau lebih bahaya lagi, bila kita keliru (kurang) dalam menyiapkan uang. Yang pasti proses administrasi dan pembayaran perumahan adalah seperti berikut:

Mari kita asumsikan bahwa hari ini kita melakukan pembayaran uang “tanda jadi”. Uang tanda jadi bervariasi antara 5, 10 atau 20 juta, tergantung ketentuan dari perumahan yang kita pilih. Perlu diperhatikan bahwa uang “tanda jadi” tidak akan kembali, apabila kita membatalkan pembelian rumah atau KPR kita tidak memenuhi persyaratan (ditolak). Setelah membayar uang “tanda jadi” kita akan mendapatkan dokumen bukti pembayaran bernama “surat pesanan tanah dan bangunan”.

Seminggu kemudian kita harus sudah membayar uang muka atau Down Payment (DP). Biasanya minimal 20% atau 30%. Semakin tinggi DP yang kita bayarkan, maka akan mengurangi beban angsuran KPR rumah bulanan, dan di sisi lain memperbesar peluang kita memperoleh KPR. Minta marketing perumahan untuk membuatkan simulasi besaran ansuran bulanan yang harus kita bayarkan, untuk durasi 5, 10 dan 15 tahun dengan DP yang kita tentukan. 10 tahun mungkin ideal untuk KPR, karena angsuran tidak mencekik seperti halnya bila durasi angsuran 5 tahun, atau bunga bank tidak mencekik bila durasi angsuran 15 tahun.

Setelah pembayaran DP kita menunggu proses approval KPR dari bank. Sambil menunggu aproval KPR dari bank, kita akan diminta menandatangani dokumen “Perjanjian Pengikatan Jual Beli Tanah dan Bangunan” (PPJBTB). Pelajari dengan baik dan pertanyakan pasal-pasal yang masih membingungkan ke pemasaran perumahan yang mengurus rumah yang kita beli. Tanda tangani surat tersebut bila semua pasal dan ayat sudah kita pahami dan pelajari dengan baik.

Beberapa dokumen lain yang kita harus tanda tangani selain PPJBTB misalnya adalah dokumen “tata tertib lingkungan perumahan”, yang berisi peraturan-peraturan dan kewajiban yang harus kita lakukan setelah kita menghuni perumahan tersebut.

Apabila KPR lancar, biasanya sekitar 10-30 hari setelah DP, kita sudah bisa akad kredit. Akad kredit adalah titik awal dimulainya KPR kita. Bulan berikutnya kita sudah mulai membayar angsuran bulanan kita. Pada saat akad kredit, biasanya pihak bank dan notaris menawarkan pengajuan peningkatan hak dari Hak Guna Bangunan (HGB) menjadi Hak Milik (HM). Pengurusan Sertifikat Hak Milik (SHM) biasanya memerlukan biaya sekitar Rp 5-6 juta, dan bisa diajukan di awal kredit atau setelah kita menyelesaikan angsuran.

Untuk rumah yang siap huni, biasanya memerlukan waktu 1-2 bulan dari akad kredit, sampai rumah bisa kita tempati (serah terima rumah). Biasanya proses 1-2 bulan itu digunakan untuk: melakukan pembersihan dan pengecatan ulang rumah, pendaftaran PLN, PDAM, Line Telpon, dsb.

Kita mendapatkan waktu garansi kerusakan rumah atau kadang disebut “masa pemeliharaan”, dengan durasi 3-6 bulan dari proses serah terima rumah. Waktu garansi (masa pemeliharaan) itu bisa gunakan untuk komplen dan meminta perbaikan gratis apabila rumah kita bocor, dinding retak atau kerusakan lain.

Sebaiknya dalam masa pemeliharaan, jangan dulu melakukan renovasi rumah secara signifikan, karena itu akan menghilangkan 3-6 bulan garansi kerusakan. Masalah ini biasanya tertulis jelas di PPJBTB.

Kami Rekomendasikan : 
Jangan lupa untuk menambahkan interior rumah, memasang teralis di pintu dan jendela, serta memasang bak penampungan air dan toren untuk backup bila air PDAM atau sumur tidak lancar. Intinya usahakan mengurus segala keperluan lain berhubungan dengan isi dan desain rumah kita, sebelum kita tempati. Karena setelah kita tempati, proses seperti itu akan relatif lebih repot kita lakukan.

Wednesday, January 4, 2017

Wajah Terbakar Lihat Komputer, Si Wanita Ternyata Alergi Wifi


Seorang wanita bernama Kim De'Atta harus menghabiskan waktunya bertahun-tahun di dalam rumah tanpa pergi ke manapun. Hidup terkurung yang diijalani Kim semakin menjadi keramik kamar mandi setelah teknologi Ponsel semakin berkembang.

Kim memang mengidap kelainan aneh. Dia alergi pada gelombang wifi dan sinyal ponsel.

Akibat alerginya itu pula, Kim tidak pernah bisa mengunjungi teman atau keluarganya. Gelombang elektromagnetik dari teknologi keramik granit modern membuatnya migrain, kelelahan, bahkan infeksi.

Mantan perawat itu harus mengenakan pakaian pelindung gelombang jika ingin meninggalkan rumah. Sementara tempat-tempat yang dia kunjungi haruslah minim sinyal ponsel.

Kondisinya yang lemah memaksa dia berpindah rumah sebanyak dua kali. Penyebabnya, pembangunan tiang pemancar gelombang terus terjadi di dekat tempat tinggalnya.

Kini, dia tinggal dan tidur di bawah jaring khusus yang mampu meredam gelombang elektromagnetik. Dia berharap suaranya mengenai sensitifitas terhadap gelombang elektromagnetik dapat membuat banyak orang memahami kondisinya dan menjadi lebih simpati.

" Sepanjang waktu orang berpikir saya gila. Ini sangat sulit karena mereka tidak merasakan apa yang saya alami," kata Kim.

" Saya tidak bisa mengunjungi teman dan keluarga saya dalam waktu yang lama. Saya punya dua pengunjung selama setengah hari sepanjang tahun. Ini benar-benar membanggakan," ucap dia.

" Saya sudah tidak lagi melihat bibi terdekat saya selama 10 tahun dan dia tidak benar-benar memahami mengapa. Kami sangat dekat sebelumnya,"

" Saya sudah tidak betah dan dia sudah 91 tahun kala itu. Saya memakai kayu penutup kepala saya dan Anda dapat bayangkan saya terlihat lucu di dalam bus," ujar Kim.

Kim mengatakan masalahnya bermula saat ia berusia 16 tahun dan tinggal di selatan London. Dia mulai sakit saat di dekat televisi.

Kondisinya semakin parah beberapa tahun lalu saat dia bekerja sebagai perawat di pelayanan intensif. Dia selalu membawa ponsel sehingga bisa dikontak saat terjadi peristiwa gawat darurat.

" Pertama kalinya saya memasangnya di kepala saya seperti laser masuk ke otak saya. Setiap waktu saya menempelkan di kepala saya, saya selalu sakit," ucap Kim.

" Setelah itu saya merasa semakin lelah dan sistem kekebalan tubuh saya semakin melemah dan saya mengalami infeksi," kata Kim.

Dia mencari tahu tentang sensitivitas terhadap elektromagnetis dan menyadari masalahnya disebabkan gelombang radiasi dari ponsel, televisi, wifi, dan alat-alat elektronik.

Kim lalu pindah ke Glastonbury agar terbebas dari gelombang dan merasa lebih baik beberapa tahun lalu. Semua dia alami sebelum sebuah tiang pemancar dibangun di tengah kota.

" Sekarang saya sadar kesehatan saya mulai memburuk saat itu dan saya mulai merasakan migrain, kelelahan, dan alergi," kata Kim.

" Awalnya dokter mengira tulang punggung saya bergeser, tapi tidak terbukti," ucap Kim.

" Saat saya mengunjungi dokter lain, dia mengatakan ada sesuatu di sekitar yang bisa dimanfaatkan untuk mengurangi radiasi elektromagnetik," ucap dia.

" Saya lalu melihat komputer dan merasakan wajah saya seperti terbakar," ucap Kim.

Saat sinyal 3G masuk kota, Kim mulai mengalami sesak napas dan jantungnya berdebar-debar. Dia lalu memutuskan kaca pindah ke Chard, Somerset.

" Kepala saya terasa seperti mau meledak baik dari dalam maupun dari luar di saat yang sama," ucap dia.